PESAN BAPA SUCI PAUS LEO XIV UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-60 “MENJAGA SUARA DAN WAJAH MANUSIA”
Peringatan tahunan Gereja Katolik ini akan dirayakan pada 17 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Minggu sebelum pentakosta.

Saudara-saudari terkasih,
Wajah dan suara kita bersifat unik dan khas; keduanya menyingkapkan identitas setiap pribadi
yang tak tergantikan dan menjadi unsur penentu dalam setiap perjumpaan dengan sesama.
Hal ini telah dipahami dengan baik oleh orang-orang zaman dulu. Untuk mendefinisikan
pribadi manusia, bangsa Yunani kuno menggunakan kata prósōpon (wajah), karena secara
etimologis kata ini menunjuk pada apa yang hadir di hadapan pandangan, yakni ruang
kehadiran dan relasi. Sementara itu, istilah Latin persona (dari per-sonare) membangkitkan
gagasan tentang suara: bukan sembarang suara, melainkan suara khas seseorang yang tak
dapat disamakan dengan yang lain.
Wajah dan suara adalah sesuatu yang suci. Allah, yang menciptakan kita menurut gambar dan
rupa-Nya, menganugerahkan keduanya kepada kita ketika Ia memanggil kita ke dalam
kehidupan melalui Sabda yang ditujukan kepada kita. Sabda ini telah bergema sepanjang
sejarah melalui suara para nabi, dan pada kepenuhan waktu menjadi daging. Kita pun telah
mendengar dan melihat Sabda ini (lih. 1Yoh 1:1–3)—di dalam-Nya Allah mengomunikasikan
diri-Nya sendiri kepada kita—karena Sabda itu dinyatakan kepada kita dalam suara dan wajah
Yesus, Putra Allah.
Sejak awal penciptaan, Allah menghendaki laki-laki dan perempuan menjadi mitra dialog-Nya.
Seperti dijelaskan oleh Santo Gregorius dari Nyssa,1 Allah mengukir pada wajah kita pantulan
kasih ilahi, agar kita dapat menghayati kemanusiaan kita secara utuh melalui kasih. Maka,
menjaga wajah dan suara manusia berarti menjaga tanda ini, pantulan kasih Allah yang tak
terhapuskan. Kita bukanlah makhluk yang terdiri dari rumus-rumus biokimia yang telah
ditentukan sebelumnya. Setiap pribadi memiliki panggilan yang tak tergantikan dan tak dapat
ditiru, yang lahir dari pengalaman hidupnya sendiri dan menjadi nyata melalui interaksi
dengan orang lain.
Jika kita gagal menjaga hal ini, teknologi digital berisiko mengubah secara radikal beberapa
pilar mendasar peradaban manusia yang kerap kali kita terima apa adanya. Dengan
1 “Fakta bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah berarti bahwa sejak saat penciptaannya, manusia
telah dimeteraikan dengan suatu martabat yang bersifat rajawi […]. Allah adalah kasih dan sumber kasih: Sang
Pembentuk kodrat kita juga telah menjadikan kasih itu sebagai ciri kita, sehingga melalui kasih—sebagai
pantulan kasih ilahi—manusia dapat mengenali dan mewujudkan martabat kodratnya serta keserupaannya
dengan Sang Pencipta” (lih. Santo Gregorius dari Nyssa, Tentang Penciptaan Manusia / On the Making of Man:
PG 44, 137).menyimulasikan wajah dan suara manusia, kebijaksanaan dan pengetahuan, kesadaran dan
tanggung jawab, empati dan persahabatan, sistem-sistem yang dikenal sebagai kecerdasan
buatan tidak hanya mengganggu ekosistem informasi, tetapi juga merambah tingkat
komunikasi yang paling dalam, yakni relasi antarmanusia.
Oleh karena itu, tantangannya bukan terutama bersifat teknologis, melainkan antropologis.
Menjaga wajah dan suara pada akhirnya berarti menjaga diri kita sendiri. Merangkul peluang
yang ditawarkan oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan dengan keberanian, keteguhan,
dan kebijaksanaan tidak berarti menutup mata terhadap persoalan-persoalan kritis,
kompleksitas, dan risiko yang menyertainya.
Jangan melepaskan kemampuan berpikir
Sejak lama, telah tersedia banyak bukti bahwa algoritma media sosial yang dirancang untuk
memaksimalkan keterlibatan—demi keuntungan platform—cenderung mengutamakan emosi
spontan dan dangkal, serta menghakimi respons manusia yang terkesan lambat, seperti upaya
untuk memahami dan merenung. Dengan mengelompokkan orang ke dalam kubu yang
mudah bersepakat dan cepat marah, algoritma-algoritma ini mengurangi kemampuan kita
untuk mendengarkan dan berpikir kritis, serta memperburuk polarisasi sosial.
Situasi ini diperparah oleh ketergantungan yang naif dan tidak kritis pada kecerdasan buatan
sebagai “teman” yang mahatahu, sumber segala pengetahuan, arsip setiap ingatan, atau
“peramal” segala nasihat. Semua ini dapat semakin mengikis kemampuan kita untuk berpikir
analitis dan kreatif, memahami makna, serta membedakan antara sintaksis dan semantik.
Meskipun kecerdasan buatan dapat membantu dalam mengelola berbagai tugas komunikasi,
dalam jangka panjang, memilih untuk menghindari upaya berpikir sendiri dan puas dengan
kompilasi statistik buatan berisiko melemahkan kemampuan kognitif, emosional, dan
komunikatif kita.
Dalam beberapa tahun terakhir, sistem kecerdasan buatan semakin menguasai produksi teks,
musik, dan video. Hal ini menempatkan sebagian besar industri kreatif manusia pada risiko
diruntuhkan dan digantikan oleh label “Powered by AI”, menjadikan manusia sekadar
konsumen pasif dari gagasan-gagasan yang tidak dipikirkan dan produk-produk anonim tanpa
kepemilikan dan tanpa kasih. Sementara itu, mahakarya kejeniusan manusia dalam musik,
seni, dan sastra direduksi menjadi sekadar bahan latihan bagi mesin.
Namun, pertanyaan yang paling mendasar bukanlah apa yang dapat atau akan dilakukan oleh
mesin, melainkan apa yang dapat dan akan kita capai dengan bertumbuh dalam kemanusiaan
dan pengetahuan melalui penggunaan yang bijak atas sarana-sarana yang begitu potensial
yang kita miliki. Sejak dahulu, manusia selalu tergoda untuk memperoleh buah pengetahuan
tanpa jerih payah yang membutuhkan komitmen, riset, dan tanggung jawab pribadi. Akan
tetapi, melepaskan kreativitas dan menyerahkan kemampuan berpikir serta imajinasi kita
kepada mesin berarti mengubur talenta yang dipercayakan kepada kita untuk bertumbuhsebagai pribadi dalam relasi dengan Allah dan sesama. Itu berarti menyembunyikan wajah kita
dan membungkam suara kita.
Menjadi atau berpura-pura menjadi: Menyimulasikan relasi dan realitas
Ketika kita menggulir linimasa, semakin sulit untuk membedakan apakah kita sedang
berinteraksi dengan manusia nyata atau dengan “bot” dan “influencer virtual”. Intervensi
agen-agen otomatis yang tidak transparan memengaruhi perdebatan publik dan pilihan-
pilihan pribadi. Chatbot berbasis model bahasa berskala besar (LLM) terbukti sangat efektif
dalam persuasi terselubung melalui optimalisasi interaksi yang dipersonalisasi secara terus-
menerus. Struktur dialogis, adaptif, dan mimetik dari model-model ini mampu meniru
perasaan manusia dan dengan demikian menyimulasikan sebuah relasi. Antropomorfisasi
semacam ini mungkin menghibur, tetapi juga menipu, terutama bagi mereka yang paling
rentan. Karena chatbot bersifat sangat “afektif”, selalu hadir, dan selalu dapat diakses, mereka
dapat menjadi arsitek tersembunyi dari keadaan emosional kita, bahkan menginvasi dan
menduduki ruang keintiman kita.
Teknologi yang mengeksploitasi kebutuhan kita akan relasi dapat menimbulkan dampak
menyakitkan dalam kehidupan pribadi, sekaligus merusak jalinan sosial, kultural, dan politik
masyarakat. Hal ini terjadi ketika kita menggantikan relasi antarsesama manusia dengan
sistem kecerdasan buatan, yang disesuaikan sepenuhnya dengan citra dan selera kita sendiri,
sehingga segala sesuatu dibuat “menurut gambar dan rupa kita”. Dengan demikian, kita
kehilangan kesempatan untuk berjumpa dengan orang lain yang selalu berbeda dari diri kita,
dan dengan siapa kita perlu dan harus belajar berelasi. Tanpa keterbukaan pada yang lain,
tidak mungkin ada relasi sejati atau persahabatan.
Tantangan besar lain dari sistem-sistem baru ini adalah bias, yang menyebabkan persepsi
realitas menjadi terdistorsi. Model kecerdasan buatan dibentuk oleh cara pandang para
pembuatnya dan pada gilirannya dapat memaksakan cara berpikir tersebut dengan
mereproduksi stereotipe dan prasangka yang terkandung dalam data yang digunakan.
Kurangnya transparansi dalam pemrograman algoritmik, ditambah dengan representasi sosial
data yang tidak memadai, cenderung menjebak kita dalam jejaring yang memanipulasi cara
berpikir kita serta memperpanjang dan memperdalam ketimpangan dan ketidakadilan sosial
yang sudah ada.
Taruhannya sangat besar. Kekuatan simulasi sedemikian rupa sehingga kecerdasan buatan
bahkan dapat menipu kita dengan menciptakan “realitas” paralel, merampas wajah dan suara
kita. Kita hidup dalam dunia yang multidimensional, di mana semakin sulit membedakan
antara kenyataan dan fiksi.
Ketidakakuratan hanya memperburuk situasi ini. Sistem yang menyajikan probabilitas statistik
sebagai pengetahuan, pada akhirnya hanya menawarkan pendekatan-pendekatan terhadap
kebenaran, yang kadang bahkan merupakan ilusi belaka. Kegagalan memverifikasi sumber,
ditambah dengan krisis peliputan lapangan yang menuntut kehadiran langsung untukmengumpulkan dan memeriksa fakta, dapat semakin menyuburkan disinformasi,
menimbulkan ketidakpercayaan, kebingungan, dan rasa tidak aman yang kian meluas.
Aliansi yang memungkinkan
Di balik kekuatan besar yang tak kasatmata ini, terdapat segelintir perusahaan, yang para
pendirinya baru-baru ini dipuja sebagai “Tokoh Tahun 2025” atau arsitek kecerdasan buatan.
Hal ini menimbulkan keprihatinan serius mengenai kontrol oligopolistik atas sistem algoritmik
dan kecerdasan buatan, yang mampu secara halus memengaruhi perilaku, bahkan menulis
ulang sejarah manusia—termasuk sejarah Gereja—sering kali tanpa kita sadari sepenuhnya.
Tugas kita bukanlah menghentikan inovasi digital, melainkan mengarahkannya dan menyadari
sifatnya yang ambivalen. Setiap dari kita dipanggil untuk mengangkat suara demi membela
martabat pribadi manusia, agar sarana-sarana ini sungguh dapat kita hayati sebagai sekutu.
Aliansi ini mungkin terwujud, tetapi harus bertumpu pada tiga pilar: tanggung jawab, kerja
sama, dan pendidikan.
Pertama, tanggung jawab. Bergantung pada peran masing-masing, tanggung jawab dapat
berarti kejujuran, transparansi, keberanian, pandangan jauh ke depan, kewajiban berbagi
pengetahuan, atau hak untuk memperoleh informasi. Namun, sebagai prinsip umum, tidak
seorang pun dapat menghindari tanggung jawab pribadi atas masa depan yang sedang kita
bangun.
Bagi para pengelola platform daring, ini berarti memastikan bahwa strategi bisnis mereka
tidak semata-mata digerakkan oleh maksimalisasi keuntungan, melainkan juga oleh visi yang
berpandangan jauh ke depan dan mempertimbangkan kebaikan bersama, sebagaimana
mereka peduli pada kesejahteraan anak-anak mereka sendiri.
Para pencipta dan pengembang model kecerdasan buatan diajak untuk mempraktikkan
transparansi dan tanggung jawab sosial dalam prinsip desain dan sistem moderasi algoritma
yang mereka kembangkan, demi memungkinkan persetujuan yang benar-benar sadar dari
para pengguna.
Tanggung jawab yang sama juga dituntut dari para legislator nasional dan regulator
supranasional, yang bertugas menjamin penghormatan terhadap martabat manusia. Regulasi
yang tepat dapat melindungi individu dari keterikatan emosional dengan chatbot serta
membatasi penyebaran konten palsu, manipulatif, atau menyesatkan, demi menjaga
integritas informasi dan bukan sekadar simulasinya.
Perusahaan media dan komunikasi pun tidak boleh membiarkan algoritma yang dirancang
untuk mencuri perhatian sesaat dengan segala cara mengalahkan nilai-nilai profesional
mereka yang berorientasi pada pencarian kebenaran. Kepercayaan publik dibangun melalui
akurasi dan transparansi, bukan dengan mengejar segala bentuk keterlibatan. Konten yang
dihasilkan atau dimanipulasi oleh kecerdasan buatan harus diberi penanda yang jelas dan
dibedakan dari konten buatan manusia.lainnya harus dilindungi. Informasi adalah barang publik. Pelayanan publik yang konstruktif
dan bermakna tidak bertumpu pada ketertutupan, melainkan pada transparansi sumber,
pelibatan pihak-pihak terkait, dan standar mutu yang tinggi.
Kedua, kita semua dipanggil untuk bekerja sama. Tidak ada satu sektor pun yang mampu
sendirian menghadapi tantangan mengarahkan inovasi digital dan tata kelola kecerdasan
buatan. Oleh karena itu, perlindungan dan mekanisme pengaman harus dibangun bersama.
Semua pemangku kepentingan—mulai dari industri teknologi hingga para legislator, dari
perusahaan kreatif hingga dunia akademik, dari para seniman hingga jurnalis dan pendidik—
harus dilibatkan dalam membangun dan menerapkan kewargaan digital yang bertanggung
jawab dan berkesadaran.
Ketiga, pendidikan memiliki tujuan untuk secara persis mencapai hal ini: meningkatkan
kemampuan pribadi kita untuk berpikir kritis; menilai apakah sumber-sumber informasi kita
dapat dipercaya; serta kepentingan yang mungkin ada di balik pemilihan informasi yang kita
akses; memahami mekanisme psikologis yang terlibat; serta memberdayakan keluarga,
komunitas, dan organisasi untuk mengembangkan standar praktis demi budaya komunikasi
yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
Oleh karena itu, semakin mendesak untuk memasukkan literasi media, informasi, dan
kecerdasan buatan ke dalam sistem pendidikan di semua jenjang, sebagaimana telah
dipromosikan oleh berbagai lembaga sipil. Sebagai umat Katolik, kita dapat dan harus
berkontribusi dalam upaya ini, agar setiap orang—terutama kaum muda—dapat
mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan bertumbuh dalam kebebasan batin. Literasi
ini juga perlu diintegrasikan dalam inisiatif pembelajaran sepanjang hayat, menjangkau para
lansia dan kelompok-kelompok yang terpinggirkan, yang sering merasa tersisih dan tak
berdaya menghadapi perubahan teknologi yang cepat.
Literasi media, informasi, dan kecerdasan buatan akan membantu individu untuk tidak
terjebak dalam kecenderungan antropomorfisasi sistem kecerdasan buatan, serta
memungkinkan mereka memperlakukan sistem tersebut sebagai alat, sambil senantiasa
melakukan verifikasi eksternal atas sumber-sumber yang diberikan kecerdasan buatan—yang
bisa saja keliru atau tidak akurat. Literasi ini juga memungkinkan perlindungan privasi dan data
yang lebih baik melalui kesadaran yang meningkat akan pengaturan keamanan dan
mekanisme pengaduan. Penting untuk mendidik diri kita sendiri dan orang lain agar
menggunakan kecerdasan buatan secara sadar dan bertujuan, sekaligus melindungi citra kita
(foto dan audio), wajah dan suara kita, agar tidak disalahgunakan dalam pembuatan konten
dan perilaku berbahaya, seperti penipuan digital, perundungan siber (cyber bullying), dan
deepfake, yang melanggar privasi dan keintiman seseorang tanpa persetujuan.
Sebagaimana revolusi industri dahulu menuntut literasi dasar agar manusia mampu
menanggapi perkembangan baru, demikian pula revolusi digital menuntut literasi digital—
bersama dengan penalgoritma membentuk persepsi kita atas realitas, bagaimana bias kecerdasan buatan bekerja,
mekanisme apa yang menentukan kehadiran konten tertentu dalam linimasa kita, prinsip
ekonomi apa yang mendasari ekonomi kecerdasan buatan, dan bagaimana semua itu dapat
mengubah kehidupan kita.
Kita membutuhkan wajah dan suara untuk kembali berbicara bagi manusia. Kita perlu
merawat anugerah komunikasi sebagai kebenaran terdalam kemanusiaan, yang menjadi arah
bagi seluruh inovasi teknologi.
Dalam menyampaikan refleksi-refleksi ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang bekerja demi tujuan-tujuan tersebut di atas, dan dengan sepenuh hati saya
memberkati semua orang yang berkarya bagi kebaikan bersama melalui media.
Dari Vatikan, 24 Januari 2026
Peringatan Santo Fransiskus de Sales




