Warta Paroki

“STOP MIRAS, KEMBALI KE TUNGKU API, KAMPUNG, DAN GEREJA”

SERUAN DAMAI DARI HATI DOGIYAI

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Dogiyai, 4 Oktober 2025, Majelis Rakyat Papua (MRP) melalui Kelompok Kerja (Pokja) Agama Katolik menggelar kegiatan Gabungan Seruan Damai dan Ibadah Kebangkitan Rohani (KKR) bersama para petugas Gereja Katolik di Kabupaten Dogiyai. Acara ini berlangsung di Paroki Santo Petrus Mauwa, Dogiyai, dan dihadiri oleh para pewarta, kader Gereja, serta perwakilan pemerintah daerah.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Seruan Damai Papua yang sebelumnya telah diselenggarakan di Nabire beberapa bulan lalu. Melalui kegiatan ini, MRP berupaya memperdalam dan merumuskan poin-poin seruan perdamaian berdasarkan aspirasi langsung dari umat di wilayah konflik, khususnya di Kabupaten Dogiyai.

Acara dibuka dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh Frater Siorus Degei, penanggung jawab Dewan Pastoral Paroki St. Petrus Mauwa, yang juga bertindak sebagai pengarah kegiatan. Dalam sambutannya, Frater Degei menekankan pentingnya keterlibatan iman dalam membangun budaya damai di Tanah Papua.

Selanjutnya, Yahya Iyai, anggota MRP dari Pokja Agama Katolik utusan Keuskupan Timika, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bentuk nyata komitmen MRP dalam mendengarkan suara umat dari akar rumput.

“Kami ingin mendengar langsung suara dari umat kecil yang hidup di wilayah konflik seperti Dogiyai. MRP hadir bukan hanya sebagai lembaga politik, tetapi juga sebagai jembatan rohani bagi perdamaian,” ungkap Yahya Iyai.

Mewakili Pemerintah Kabupaten Dogiyai, hadir Markus Auwe, S.S., Kepala Distrik Kamuu Induk. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi langkah MRP Pokja Agama yang turun langsung ke daerah.

“Kegiatan ini adalah wujud nyata kepedulian terhadap isu sosial dan kemanusiaan. Kami berharap semangat ini mampu mewujudkan Dogiyai sebagai tanah damai sesuai motto kita: Dogiyai Dou Ena,” ujarnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ruang diskusi terbuka yang dipandu oleh Frater Degei. Diskusi dibagi dalam dua sesi, dengan tiga penanya di setiap sesi.

Dalam sesi pertama, beberapa pewarta senior mengangkat isu sosial yang menjadi akar konflik di Dogiyai.

  • Pewarta Karel Tebay menilai minuman keras (miras) sebagai sumber utama konflik dan kemalasan generasi muda. Ia menuding adanya jaringan ekonomi gelap antara oknum masyarakat dan aparat yang memperkuat peredaran miras.
  • Pewarta Martinus menyoroti perjudian “rolex” yang merusak moral kaum muda.
  • Pewarta Martina Pigome, seorang guru senior, mengajak agar kegiatan seperti ini melibatkan semua denominasi agama demi membangun Dogiyai yang damai. Ia mengusulkan pembentukan Tim Doa Rekonsiliasi untuk penyembuhan mental dan spiritual anak muda.

Sementara itu, Kepala Distrik Kamuu, Markus Auwe, menambahkan contoh nyata pertobatan di masyarakat, seperti kesaksian Clemens Dogomo, mantan bandar togel dan pengidap HIV-AIDS yang mengalami kesembuhan melalui doa dan puasa dalam kelompok doa “Daa Diyoo Dou”.

Dalam sesi kedua, beberapa peserta berbagi pengalaman iman dan refleksi sosial.

  • Seorang Mama Pewarta menceritakan pengalaman pribadinya yang sembuh dari sakit berat berkat doa, menegaskan bahwa “tidak ada luka yang tidak dapat disembuhkan Tuhan”.
  • Pewarta Karel Tebay membandingkan “Dogiyai lama yang damai dan subur” dengan “Dogiyai baru” yang tergerus modernisasi, miras, dan ketimpangan sosial.
  • Seorang pewarta muda dari Kombas St. Yohanes Pemandi Diyopo menegaskan perlunya ketegasan orangtua dalam mendidik anak.
  • Beberapa Mama Pewarta lain menyerukan agar MRP dan pemerintah bekerja sama menciptakan lapangan pekerjaan berbasis kearifan lokal serta memperkuat pembinaan iman di Gereja.

Menutup sesi diskusi, seorang kader pewarta muda dari Stasi Muniopa mengajak MRP menggunakan pendekatan ilmiah dan komprehensif dalam mewujudkan perdamaian, termasuk dengan analisis SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman sosial Dogiyai.

Dalam kesimpulan forum, Frater Siorus Degei menjelaskan dua pendekatan dalam memperjuangkan perdamaian, yakni resolusi konflik dan transformasi konflik.

“Resolusi sering kali hanya menyentuh permukaan masalah. Kita perlu melangkah ke tahap transformasi, yaitu perubahan sikap, struktur, dan hati manusia,” tegas Frater Degei.

Ia pun mengusulkan tiga langkah strategis:

  1. Jangka Panjang – menerapkan Dialog Damai Pater Neles Tebay di tingkat kabupaten, dengan MRP Pokja Agama sebagai fasilitator antaraktor: pemerintah, Gereja, aparat keamanan, masyarakat adat, perempuan, pemuda, pengusaha, dan LSM.
  2. Jangka Pendek – mengadakan pelatihan dari pemerintah daerah dan katekese dari Gereja.
  3. Langkah Realistis-Praktis – menghentikan peredaran miras dan perjudian, membuka lapangan kerja berbasis kearifan lokal, serta memperbanyak katekese di paroki dan stasi.

Forum kemudian menyepakati “Seruan Perdamaian Dogiyai Tetodei” dengan slogan:

“Stop Miras, Kembali ke Tungku Api, Kampung, dan Gereja!”

Isi seruan meliputi:

  1. Mengecam peredaran miras di Kabupaten Dogiyai.
  2. Mengutuk aktor-aktor di balik konflik Dogiyai.
  3. Menolak praktik perjudian rolex dan sejenisnya.
  4. Memberdayakan kaum muda melalui pelatihan dan lapangan pekerjaan.

Kegiatan diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin oleh Pewarta Karel Tebay, kemudian dilanjutkan dengan Ibadah Kebangkitan Rohani (KKR) bersama Frater Degei dan para pewarta. Suasana doa penuh haru dan semangat iman menjadi tanda komitmen bersama untuk membangun Dogiyai yang damai.

Sebagai penutup, seluruh peserta mengikuti makan bersama yang menjadi lambang persaudaraan dan kesatuan umat lintas wilayah. Kegiatan ini meneguhkan pesan utama bahwa perdamaian sejati berawal dari hati yang mau berubah dan terbuka terhadap kasih Tuhan. ***FR. SIORUS DEGEI

Admin Komsos 1
Author: Admin Komsos 1

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button