Majalah Gaiya

MUSPASMEE KE VIII: REFLEKSI FILOSOFI MEE TENTANG HAK HIDUP

Opini Elias Awekidabi Gobay

Walaupun saya tidak hadir secara langsung, data resmi dan laporan media tentang MUSPASMEE VIII memberi saya kesempatan untuk merenung, menarik benang merah, dan menyusun opini mengenai hak hidup dalam konteks Papua Tengah. Forum pastoral ini berlangsung di Paroki Kristus Jaya Komopa, Dekanat Paniai, Keuskupan Timika pada 2-8 Februari 2026, dan menjadi ruang penting bagi umat untuk melihat, berpikir, dan mengerjakan kehidupan bersama, sebagaimana filosofi suku Mee mengajarkan: Dou–Gai–Ekowai.

Menemukan Kehidupan melalui dou: Melihat Realitas

MUSPASMEE KE VIII bukan sekadar forum, tetapi laboratorium moral yang menampilkan realitas hidup masyarakat Papua Tengah. Dari laporan, terlihat umat bekerja sama dalam gotong royong pra-acara, membangun akomodasi, menyiapkan dapur umum, dan mengatur ruang-ruang kegiatan. Ini adalah manifestasi nyata Dou melihat bukan sekadar mata, tetapi hati dan nurani terbuka untuk memahami kondisi sesama.(nabire.net)

Melalui kegiatan ini, jelas bahwa anak-anak dan keluarga Papua Tengah menghadapi tantangan pendidikan, sosial, dan budaya. Realitas itu harus dilihat dengan jujur, karena hak hidup tidak sekadar kata dalam dokumen, tetapi kenyataan yang dirasakan setiap hari: kehidupan yang aman, pendidikan yang layak, dan keberlangsungan budaya sebagai bagian dari eksistensi manusia.

Berpikir Etis melalui Gai: Menimbang Makna Hidup

Tahap kedua dalam filosofi Mee adalah Gai  berpikir. Dalam konteks MUSPASMEE VIII, Gai tercermin dalam dialog lintas kelompok, termasuk tokoh adat, pemuda, ibu-ibu, dan pemerintah. Laporan menyebut bahwa Gubernur Papua Tengah menyampaikan sambutan penting: MUSPASMEE VIII harus menghasilkan rekomendasi praktis, membangun sinergi antara Gereja dan pemerintah, serta memberikan jawaban nyata terhadap tantangan umat.(papua.wahananews.co)

Saya, berpikir di sini adalah proses kritis dan etis: mempertanyakan, menimbang, dan merumuskan langkah yang tidak hanya formal, tetapi mendukung kehidupan dengan martabat, menyatukan perspektif spiritual, sosial, dan budaya. Gai memastikan bahwa keputusan dan program yang lahir dari MUSPASMEE VIII bukan sekadar retorika, tetapi refleksi moral yang berakar pada kebutuhan nyata masyarakat.

Mengerjakan Kehidupan melalui Ekowai: Tindakan Nyata

Tahap terakhir filosofi Mee adalah Ekowai  tindakan. MUSPASMEE VIII melahirkan beberapa inisiatif konkret:

Penguatan program pendidikan komunitas untuk anak-anak di wilayah Paniai, Deiyai, dan Dogiyai.

Pendampingan sosial bagi keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi dan sosial.

Pengembangan kegiatan budaya dan lingkungan, sebagai bentuk pelestarian tradisi yang menegaskan identitas masyarakat Papua Tengah.

Dalam opini saya, Ekowai menunjukkan bahwa hak hidup harus diwujudkan secara nyata, bukan hanya dijadikan slogan. Semua tindakan ini adalah manifestasi nilai hak hidup dalam bentuk komitmen kolektif, solidaritas sosial, dan tanggung jawab komunitas.(nabire.net)

Iya Iya Akatiyake: Filosofi Kehidupan Kolektif

Tema MUSPASMEE KEVIII, Iya Iya Akatiyake, secara harfiah berarti “Aku Menjaga dan Menghidupkan”. Bagi saya, pesan ini menegaskan hak hidup sebagai nilai kolektif: bukan hanya hak individu, tetapi tanggung jawab bersama. Dari perspektif filosofi Mee, setiap individu yang melihat, berpikir, dan mengerjakan kehidupan berkontribusi pada keutuhan komunitas.

Forum ini menunjukkan bahwa Gereja hadir tidak hanya sebagai institusi rohani, tetapi sebagai mitra strategis untuk memastikan kehidupan umat, menguatkan nilai moral, dan membangun harmoni sosial di tengah tantangan modernisasi dan perubahan budaya.(nabire.net)

Dukungan Pemerintah dan Sinergi Komunitas

Pemerintah Kabupaten Deiyai mendukung kegiatan ini dengan menyalurkan Rp750 juta, sebagian besar digunakan untuk logistik panitia, akomodasi peserta, dan kunjungan Uskup Keuskupan Timika. Ini bukan sekadar bantuan finansial, tetapi pengakuan terhadap peran vital gereja dalam menjaga kehidupan sosial dan spiritual umat.(nabire.net)

Dalam opini saya, sinergi ini menunjukkan bahwa hak hidup bukan hanya persoalan moral, tetapi juga sosial dan struktural: komunitas, gereja, dan pemerintah harus bergerak bersama untuk merawat kehidupan dengan cara yang bermartabat, inklusif, dan berkelanjutan.

Meskipun tidak hadir, saya berpendapat bahwa MUSPASMEE VIII berhasil menegaskan filosofi Mee secara praktis. Proses melihat (Dou), berpikir (Gai), dan mengerjakan (Ekowai) membentuk kerangka moral dan sosial yang nyata: hak hidup bukan sekadar konsep, tetapi nilai yang dihidupi, dijaga, dan diwujudkan secara kolektif.

Forum ini memperlihatkan bahwa kehidupan manusia di Papua Tengah dihargai secara holistik spiritual, sosial, dan budaya. Opini saya menekankan satu hal: kehidupan tidak boleh menjadi korban kebijakan atau retorika, tetapi harus menjadi pusat perhatian, tanggung jawab moral, dan aksi nyata setiap individu dan komunitas.

Referensi

  1. Ribuan umat Katolik menghadiri MUSPASMEE VIII di Komopa. (nabire.net)
  2. Gotong royong masyarakat Distrik Topiyai menjelang puncak kegiatan. (nabire.net)
  3. Sambutan Gubernur Papua Tengah saat pembukaan MUSPASMEE VIII. (papua.wahananews.co)
  4. Bantuan Rp750 juta dari Pemkab Deiyai untuk sukseskan MUSPASMEE VIII. (nabire.net)
  5. Kedatangan Uskup Keuskupan Timika di Komopa. (jelatanewspapua.com)

Allo
Author: Allo

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button