MERAWAT NYALA IMAN PARA LANSIA
Safari Hari Doa Sedunia Kakek-Nenek dan Lansia di Paroki St. Stefanus Sempan menghadirkan Ekaristi, Sakramen Pengurapan Orang Sakit, serta pelayanan kesehatan bagi 127 peserta
Sempan, KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Sukacita dan semangat iman mewarnai pelaksanaan Safari Ketiga Hari Doa Sedunia bagi Kakek-Nenek dan Lansia di Paroki St. Stefanus Sempan, Minggu (28/6/2026). Sebanyak 127 umat lanjut usia mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali dengan Perayaan Ekaristi, dilanjutkan seminar kesehatan, senam lansia, pemeriksaan kesehatan, hingga ramah tamah bersama.
Perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 08.30 WIT dipimpin oleh tiga imam dari tiga kongregasi berbeda, yakni Pastor Haryoto SCJ, Pastor Lambert OFM, dan Pastor Piter SJ. Kehadiran para imam dari berbagai tarekat menjadi tanda nyata persekutuan Gereja dalam memberikan perhatian kepada para lanjut usia sebagai bagian penting dari kehidupan umat.
Dalam homilinya, Pastor Piter, SJ, mengajak umat untuk senantiasa menempatkan Allah sebagai prioritas utama dalam hidup. Berangkat dari bacaan liturgi hari itu, ia menegaskan bahwa segala rencana dan keinginan manusia hendaknya berakar pada kehendak Allah karena Dialah sumber sekaligus tujuan hidup manusia.
“Iman yang hidup harus diungkapkan dan diwujudkan dalam tindakan nyata,” tegasnya.
Salah satu wujud nyata iman tersebut ialah kesediaan menerima sakramen-sakramen Gereja, termasuk Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Pada kesempatan ini, sakramen tersebut diberikan kepada umat yang telah memasuki usia lanjut sebagai tanda kasih dan penyertaan Allah dalam perjalanan hidup mereka.
Pastor Piter menjelaskan bahwa Sakramen Pengurapan Orang Sakit bukan sekadar persiapan menghadapi kematian, tetapi merupakan rahmat yang menghadirkan kekuatan Roh Kudus, pengampunan dosa, ketabahan dalam menghadapi penderitaan, serta keselamatan bagi setiap penerimanya.
“Dengan rahmat sakramen ini, para lansia diharapkan mengalami pembebasan dari kuasa dosa dan hidup dalam sukacita iman,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hidup penuh sukacita dan pengharapan yang ditunjukkan para lansia merupakan kesaksian iman yang sangat dibutuhkan Gereja masa kini. Semangat itu sejalan dengan harapan Bapa Suci Leo XIV agar para lanjut usia tetap menjadi saksi iman yang menyalakan harapan bagi generasi muda.
Kesaksian Iman yang Menguatkan
Sesudah homili, dua orang lansia menyampaikan kesaksian hidup mereka.
Kesaksian pertama disampaikan oleh Ibu Darmaris, yang mengaku bersyukur menikmati masa tuanya dengan tetap mengandalkan Tuhan dalam setiap perjalanan hidup.
“Saya bahagia karena sampai hari ini Tuhan selalu menyertai saya. Dalam usia lanjut, saya belajar semakin mengandalkan Allah,” tuturnya.
Kesaksian berikutnya datang dari mantan Bupati Mimika, Bapak Alosius Rafra, yang hadir bersama istrinya. Meski usianya telah mendekati delapan puluh tahun, ia tampil sehat, penuh semangat, dan bersukacita.
Dalam refleksinya, Alosius mengenang masa pengabdiannya sebagai Bupati Mimika pada awal tahun 2000-an, ketika pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat terus bertumbuh dalam suasana damai dan kerukunan.
Ia mengajak seluruh umat, khususnya generasi muda, untuk tetap memegang teguh nilai kejujuran dan ketulusan dalam kehidupan sehari-hari.
“Hiduplah jujur, tulus, dan jangan mengambil milik orang lain. Percayalah bahwa Allah yang kita imani pasti mencukupi apa yang kita butuhkan,” pesannya.
Perhatian terhadap Kesehatan Lansia
Usai Perayaan Ekaristi, para peserta mengikuti seminar kesehatan dan senam lansia sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan gratis.
Pelayanan kesehatan didukung oleh tenaga medis dari Puskesmas Pasar Sentral, termasuk empat orang dokter yang memberikan pemeriksaan dan konsultasi kesehatan kepada seluruh peserta. Dokter Sugoro dan Dokter Shinta turut hadir mendampingi pelayanan tersebut.
Kegiatan ini menjadi bentuk perhatian Gereja terhadap kesehatan jasmani sekaligus kesejahteraan para lanjut usia.
Menjaga Nyala Iman dan Harapan
Baik Seksi Kerasulan Keluarga Paroki maupun sejumlah lansia yang diwawancarai menilai bahwa pembentukan komunitas lansia sangat penting agar mereka tetap memiliki ruang untuk saling mendukung, bertumbuh dalam iman, menjaga kesehatan, serta terus menjadi saksi kasih Allah di tengah Gereja.
Harapan tersebut selaras dengan ajakan Bapa Suci Leo XIV pada Hari Doa Sedunia bagi Kakek-Nenek dan Lansia tahun 2025:
“Setiap paroki, setiap asosiasi, setiap komunitas gerejawi dipanggil menjadi pelaku revolusi syukur dan kepedulian dengan mengunjungi para lanjut usia, membangun jaringan dukungan dan doa bersama mereka, serta menjalin relasi yang menghadirkan harapan dan martabat bagi mereka yang merasa terlupakan.”
Safari Hari Doa Sedunia bagi Kakek-Nenek dan Lansia di Paroki St. Stefanus Sempan menjadi bukti bahwa Gereja tidak hanya menghargai para lanjut usia sebagai bagian dari masa lalu, tetapi juga menempatkan mereka sebagai penjaga api iman, kasih, dan harapan yang terus menerangi perjalanan Gereja menuju masa depan.***(P.Haryoto, SCJ)




