Majalah GaiyaWarta Paroki

PIMPIN MISA PEMBUKAAN MUSPAS MEE VIII, USKUP: JANGAN JADI GEREJA IBLIS DAN NEGARA IBLIS

KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru OSA memimpin misa pembukaan kegiatan rutin tiga tahunan Dekenat Paniai yaitu Musyawarah Pastoral (Muspas) Mee ke-VIII di Paroki Kristus Jaya Komopa, Senin (1/2/2026).

Uskup Bernardus mengajak umat untuk merenungan jalan, sebagaimana moto Uskup Pertama Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Saklil. Menurut Uskup Bernardus, jalan adalah sarana untuk mencapai sebuah tujuan. Namun Jalan yang sebenarnya adalah Kristus sendiri, Ia adalah jalan yang sesungguhnya membawa kita ke tujuan akhir yaitu kebahagian dan suka cita di dunia ini dan sukacita dalam kemuliaan, dan dalam keabadian.

“Kristus adalah jalan utama, kita yang dipanggil ambil bagian dalam tugas perutusanNya adalah jalan-jalan kecil untuk menuju kepada jalan utama yaitu Yesus sendiri,” katanya.

Selajutnya ia mengatakan iblis dan setan selalu berusaha menyesatkan manusia ke jalan kejahatan, jalan kegelapan, jalan kebinasaan dan jalan kematian. Situasi di dunia saat ini menurut Uskup Bernardus dalam situasi iblis, situasi kejahatan. Manusia tidak melihat manusia lain sebagai sesama namun dilihat sebagai objek kepentingannya, bukan hanya melalui pribadi per pribadi melainkan juga melalui sistem.

“Sistem yang diciptakan oleh manusia sendiri, sistem kekuasaan, sistem pemerintahan, sistem politik, ekonomi, sistem agama dan seterusnya yang dilihat sekarang ini justru berwajah iblis daripada berwajah Allah, dan itulah yang sedang kita alami saat ini, di Indonesia dan di kita di tanah Papua,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan bahwa Gereja, para hamba Tuhan, para pastor, uskup, biarawan-biarawati demikian juga negara, presiden dan jajarannya hingga ke tingkat bawah telah menerima panggilan Tuhan untuk melayani, tugas mengembala umat dari jalan-jalan kecil untuk bertemu jalan utama, yaitu Yesus sumber suka cita abadi.

“Bukan membawa mereka ke neraka, membawa rakyat pada kebinasaan, melalui kebijakan-kebijakan palsu, kebijakan yang justru membunuh dan merusak seluruh kehidupan baik manusia dan alam. Kalau itu yang terjadi, maka itu adalah setan, pemerintah setan, dan gereja setan, gereja iblis dan pemerintah iblis, bukan pemerintah dan gereja kebenaran dan keadilan,” ungkapnya.

Uskup juga menyinggung proyek-proyek pemerintah terkait program strategis nasional, perkebunan kelapa sawit di sejumlah daerah termasuk di Papua dan mempertanyakan apakah kebijakan itu merupakan kebijakan kebenaran dan kebijakan keadilan, kebijakan dari Tuhan atau kebijakan dari setan, kepentingan oligarki, kepentingan satu dua orang untuk kepuasan perutnya sendiri. Jika demikian, maka itu adalah kebijakan setan dan kebijakan iblis.

Uskup Bernardus juga berpesan kepada keluarga-keluarga yang ada untuk bercermin pada Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yosep dan tetap mempertahankan pola pendidikan tradisional yang menanamkan nilai-nilai moral dan iman, nilai-nilai budaya yang baik di tengah situasi saat ini yang memporak-porandakan tatanan hidup keluarga.

Usai Misa dilanjutkan dengan upacara seremonial pembukaan Muspas Mee VIII. Ketua Panitia, Yunus Kadepa dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang dengan berbagai cara mendukung dan menyukseskan pelaksanaan Muspas Mee ke-VIII di Paroki Kristus Jaya Komopa. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Paniai yang juga memberikan dukungan yang besar untuk pelaksanaan kegiatan iman ini.

Mewakili Bupati Kabupaten Paniai, Sem Nawipa, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Paniai mengatakan Muspas ini merupakan pesta iman sehingga berharap semua pihak yang terlibat selalu menjaga keamanan dan juga dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik. Ia berharap agar kegiatan Muspas ini dapat berjalan dengan baik dan sukses menuju hari esok yang lebih baik.

Asisten 2 Provinsi Papua, Marthen Ukago yang mewakili Gubernur Provinsi Papua dalam sambutannya juga meucapkan selamat bermusyawarah kepada seluruh peserta dan berharap melalui Muspas ini dapat melahirkan rekomendasi-rekomendasi pastoral yang kontekstual, sehingga pelayanan benar-benar menyentuh kebutuhan umat. Marthen juga mendorong sinergitas Pemerintah dan Gereja dalam semua aspek pembangunan.

Sementara itu, Uskup Timika dalam sambutannya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras untuk menyukseskan kegiatan ini. Ia juga berharap dan berdoa agar semua peserta dapat menemukan suara Tuhan melalui refleksi dan cerita dari umat. Muspas sebagai momen perjumpaan iman dan kasih untuk saling bergandengan tangan membangun iman umat.*** JIMMY & ALLO

 

Allo
Author: Allo

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button