SEMINAR KITAB SUCI DI NABIRE BARAT: TIDAK MENGENAL KITAB SUCI, BERARTI TIDAK MENGENAL KRISTUS
KEUSKUPANTIMIKA.ORG – Sekitar 80 umat Paroki Santo Yosep Nabire Barat mengikuti Seminar Kitab Suci dalam rangka menyambut Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026, Minggu (13/9/2026). Seminar yang mengangkat tema “Ignoratio enim Scripturae, ignoratio Christi est” atau “Tidak mengenal Kitab Suci, berarti tidak mengenal Kristus”, menghadirkan Pastor Dominikus Hodo, Pr., (Ketua Komisi Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Timika) sebagai pemateri.
Peserta seminar terdiri atas pengurus Dewan Paroki, pengurus Kombas dan Stasi, Orang Muda Katolik (OMK), serta perwakilan umat dari berbagai Kombas dan Stasi. Dalam pemaparannya, Pastor Domi mengawali materi dengan menjelaskan pengertian Kitab Suci dan Alkitab. Kedua istilah tersebut pada dasarnya menunjuk pada kitab yang sama, yakni kumpulan kitab yang memuat Sabda Allah dan kesaksian tentang karya keselamatan-Nya.
Pastor Domi menjelaskan bahwa Kitab Suci merupakan kumpulan buku yang dapat diibaratkan sebagai sebuah “perpustakaan kecil”. Kitab-kitab tersebut ditulis oleh berbagai pengarang dalam kurun waktu yang panjang dan, dalam iman Gereja, ditulis di bawah bimbingan Roh Kudus. Kitab Suci terdiri atas Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang memberikan kesaksian mengenai Sabda Allah serta karya keselamatan-Nya bagi umat manusia.
Ia juga menjelaskan bahwa sebutan “Perjanjian Lama” dan “Perjanjian Baru” berkaitan dengan relasi serta perjanjian antara Allah dan manusia. Perjanjian Baru tidak dapat dipisahkan dari Perjanjian Lama karena meneruskan, menggenapi, dan menyempurnakan karya keselamatan Allah yang telah dinyatakan sebelumnya.
Seminar kemudian mengajak peserta memahami perjalanan terbentuknya Kitab Suci, mulai dari tradisi lisan hingga tradisi tulisan. Berbagai pengalaman iman, kisah keselamatan, hukum, nubuat, doa, pujian, dan kesaksian tentang karya Allah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebelum akhirnya dibukukan dalam Kitab Suci.
Bagian penting lainnya adalah pembahasan mengenai cara membaca dan menafsirkan Kitab Suci. Pastor Domi mengacu pada Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum artikel 12. Ia menjelaskan pentingnya memahami secara cermat apa yang hendak disampaikan oleh para penulis suci dan apa yang hendak disampaikan Allah melalui kata-kata mereka.
Karena Kitab Suci ditulis dalam Roh Kudus, umat diajak membacanya dengan memperhatikan Roh yang sama. Pemahaman terhadap teks juga perlu memperhatikan isi dan kesatuan seluruh Kitab Suci, Tradisi Gereja yang hidup, serta keselarasan dengan iman Gereja.
Karena itu, membaca Kitab Suci tidak cukup hanya secara harfiah. Umat perlu memahami konteks, maksud teks, dan keseluruhan pesan Kitab Suci dalam terang iman Gereja. Gereja juga memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan menafsirkan Sabda Allah secara tepat.
Pada akhir pemaparannya, Pastor Domi mengajak umat Paroki Santo Yosep Nabire Barat untuk semakin rajin membaca, merenungkan, dan menghayati Sabda Allah. Ia menyampaikan ungkapan sederhana yang menjadi dorongan bagi umat untuk menjadikan Kitab Suci sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Di saat kita membawa Alkitab, setan sakit kepala. Ketika kita membukanya, ia jatuh. Ketika ia melihat kita membacanya, ia pingsan,” ungkapnya. Ia kemudian mengajak umat untuk terus membaca Kitab Suci agar Sabda Allah sungguh menjadi kekuatan dalam kehidupan.
Seminar mendapat tanggapan positif dari para peserta. Fransiska Goo, Guru Sekami dari Stasi Santo Paulus-SPB, mengatakan bahwa seminar tersebut membuka wawasan dan menyentuh hatinya. Pemahaman mengenai sejarah Kitab Suci menjadi bekal baginya dalam mendampingi dan mengajar anak-anak Sekami agar semakin menghayati iman.
Sementara itu, Yunike Degei, Ketua Kombas Maria Bintang Timur, Wilayah I Pusat Paroki, menilai seminar tersebut menjadi panggilan bagi umat untuk semakin mengenal Sabda Allah dan Yesus Kristus. Menurutnya, Kitab Suci bukan hanya dibaca ketika mengikuti ibadah, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan keluarga dan komunitas.
Kesaksian lainnya disampaikan Rosa Butu, yang mengungkapkan bahwa seminar tersebut memberikan pengalaman iman yang berharga. Ia merasa semakin memahami Sabda Tuhan dan memperoleh kesempatan untuk merenungkan kembali bagaimana Sabda Allah hadir serta bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Seminar Kitab Suci ini menjadi momentum bagi umat Paroki Santo Yosep Nabire Barat untuk kembali menempatkan Kitab Suci sebagai bagian penting dalam kehidupan keluarga. Pesan Pastor Domi, “Kitab Suci harus dimiliki oleh semua keluarga, minimal satu Kitab Suci untuk satu keluarga,” menjadi ajakan konkret agar keluarga Katolik tidak hanya memiliki Kitab Suci, tetapi juga membaca, merenungkan, dan menghidupinya.
Semangat BKSN 2026 dengan demikian tidak berhenti pada kepemilikan Kitab Suci. Umat diajak untuk membuka, membaca, memahami, merenungkan, dan menghayati Sabda Allah dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, semakin umat mengenal Sabda Allah, semakin umat mengenal Kristus dan dipanggil untuk menghadirkan kasih-Nya dalam keluarga, Gereja, dan kehidupan bersama. *** VINCENT







